BUNGA ABADI

Edelweiss, Edelweiss
Every morning you greet me
Small and white, clean and bright
You look happy to meet me
Blossom of snow may you bloom and grow
Bloom and grow forever
Edelweiss, Edelweiss
Bless my homeland forever
Ini adalah judul lagu yang berjudul ” Edelweiss”, yang pernah juga dinyanyikan oleh seorang anak Hollie Steel dalam semi final Britain’s got talent, yang mendapatkan sambutan luar biasa dari para audiens.
Ini juga mengingatkanku ketika seorang sahabat memberikanku sebuah rangkaian bunga, yang disebutnya dengan istilah ” bunga abadi “.
Selanjutnya aku mulai tahu, bahwa bunga itu adalah edelweiss. Apapun maknanya edelwais, ia adalah bunga abadi dan harus diabadikan.

Sesaat ketika aku berjalan di festival bunga tahun ini, aku dikejutkan oleh bunga itu. sebuah bunga yang disebut Gypsophila.
Sepertinya ia mengingatkanku akan bunga abadi, walaupun ia bukan edelweiss.
Gypsophila atau sering di istilahkan ” Baby Breath” merupakan bunga yang melambangkan suatu kemurnian dan kepolosan. Ada dua warna yang menarik yaitu putih dan pink.
Ketika aku beranjak meninggalkannya, aku teringat sebuah kata dari film Korea yang berjudul “SI ( Puisi ) “, yang mengatakan bahwa seorang yang menyukai puisi, ia akan menyukai bunga.
Aku menyukai puisi, aku suka bunga, tapi aku tidak bisa menulis puisi dan merawat bunga.
Namun melihat Gypsophila sepertinya kita harus polos apa adanya. Bahwa tak ada sesuatu yang abadi, yang abadi adalah perjalanan ketidak abadian itu menuju Sang Maha Abadi .

SARANGHAE DANGSINEUL ( 사랑해 당신을 )

Ada sebuah lagu ‘wajib’, yang harus diperkenalkan pada orang asing yang ke korea atau setidaknya menyukai Korea. Lagu ini lagu rakyat, dikenalkan bukan dari upload-an video youtube, jejaring sosial semacam twitter atau facebook, karena waktu itu memang belum ada , namun diajarkan secara turun temurun, face to face, namun masih update hingga saat ini. Lagu “Sarang hae dangsineul ”  ini masih enak dinyanyikan, sementara kita  sudah banyak melupakan lagu-lagu yang merakyat semacam  Bengawan Solo, walaupun pengarangnya baru saja berpulang.
Pada kesempatan ini saya akan menulis lirik lagunya sebagai berikut :

사랑해 당신을 정말로 사랑해
( saranghae dangsineul jeongmallo saranghae )
Aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu
당신이 내곁을 떠나간뒤에
( dangsini naegyeoteul tteonagandwie )
Setelah engkau pergi dari sisiku
얼마나 눈물을 흘렸는지 모른다오
( eolmana nunmureul heullyeonneunji moreundao)
Entah seberapa air mata ini mengalir aku tak tahu
예예예 예예예 예예예 예예예 예에예 예 예 예예예 예예예
yeyeye yeyeye yeyeye yeyeye yeeye ye ye yeyeye yeyeye
예예예 예예예 예예예 예예예 예예예 예예예 예
yeyeye yeyeye yeyeye yeyeye yeyeye yeyeye ye
사랑해 당신을 정말로 사랑해
( saranghae dangsineul jeongmallo saranghae )
Aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu

미워해 당신을 정말로 미워해
( miwohae dangsineul jeongmallo miwohae )
Aku membencimu sungguh aku membencimu
당신이 내곁을 떠나간 뒤에
( dangsini naegyeoteul tteonagan dwie )
Setelah engkau pergi dari sisiku
밤마다 그리는 보고싶은 내사랑아
( bammada geurineun bogosipeun naesaranga )
Setiap malam aku selalu merindumu oh cintaku
예예예 예예예 예예예 예예예 예에예 예 예 예예예 예예예
yeyeye yeyeye yeyeye yeyeye yeeye ye ye yeyeye yeyeye
예예예 예예예 예예예 예예예 예예예 예예예 예
yeyeye yeyeye yeyeye yeyeye yeyeye yeyeye ye

사랑해 당신을 정말로 사랑해
( saranghae dangsineul jeongmallo saranghae )
Aku mencintaimu sungguh aku mencintaimu
사랑해 당신을 정말로 사랑해
( saranghae dangsineul jeongmallo saranghae )
Aku mencintaimu sungguh aku mencintaimu

Ini lirik dasarnya, ada versi lain yang menambahinya, namun itu hanya variasi lagu saja.  Bagi yang ingin menungunduh file mp3 atau mendengarkan lagunya , bisa di unduh di : di sini

Selamat mencoba bernyanyi bersama .

Cerita tentang Keledai ( 당나귀 이야기 )

Suatu sore, saya berjalan di tengah kebun bunga matahari ( haebaragi bat ). Saat itu musim panas hampir akhir. Di tengah kebun ada beberapa ekor kuda, namun ada seekor yang menarik perhatianku karena ukurannya kecil atau pendek, namun fisik penampilannya tetap kuda, bukan keledai.
Walaupun bagaimanapun aku menjadi teringat akan cerita seekor keledai dengan 2 ( dua ) orang tuannya, seorang ayah dan anaknya. Ringkas ceritanya begini :
Seeorang ayah mengambil seekor keledai lalu menungganginya dan menyuruh sang anak berjalan di belakangnya. Baru berjalan beberapa langkah, lewatlah sebagian wanita. Gampangnya kelompok wanita dari Korea. Maka mereka bilang “ Aigo… eomeo ..eomeo… ada apa dengan orang ini.! Tidakkah kau merasa kasihan ? Kok, kamu yang naik sedangkan anakmu yang kecil itu kelelahan berjalan di belakang.?”
Karena merasa malu di olok-olok, maka iapun turun dari keledainya dan menyuruh sang anak yang naik. Tapi tak berapa lama berjalan, lewat pula segerombolan orang tua yang duduk-duduk, tentu orang Indonesia, karena lagi tidak ada pekerjaan , maka diantara mereka berkata, “ Wahai orang tua, kamu berjalan kaki padahal sudah tua sementara anakmu kau biarkan naik kendaraan. Bagaimana kamu bisa mendidiknya agar memiliki rasa malu dan beretika.?”
Maka sang ayang Tanya pada anaknya “Apakah kamu sudah mendengar apa omongan mereka barusan? Kalau begitu, mari kita naik bareng-bareng.” Kata sang ayah kepada anaknya. Lalu mereka berdua menaikinya bersama-sama dan berjalan, tetapi di tengah perjalanan, kebetulan bertemulah mereka dengan sekelompok orang yang dikenal sebagai kelompok pencinta binatang. Melihat pemandangan itu, mereka meneriaki sang ayah dan anak, “Kasihanilah binatang yang kurus-kering ini. Apakah kalian berdua menungganginya bersama-sama padahal timbangan masing-masing kalian lebih berat daripada keledai ini.?”
“Kamu dengar tadi,?” kata sang ayah kepada anaknya sambil ia turun dan menurunkan anaknya
“Kalau begitu, mari kita berjalan bersama-sama dan kita biarkan keledai ini berjalan di hadapan kita sehingga kita bisa terhindar dari ucapan miring orang laki-laki, wanita dan para pencinta binatang tersebut,” katanya lagi.
Mereka berdua kemudian terus berlalu sementara keledai berjalan di depan mereka. Kebetulan mereka berpapasan lagi dengan segerombolan pemuda-pemuda. Melihat pemandangan tersebut, mereka menggunakan kesempatan untuk mengejek seraya berkata, “ Keledai ini sangat kelelahan . sepantasnya keledai ini kalian gendong sehingga tidak akan terjadi apa-apa nanti di jalan.” Kedua akhirnya juga menuruti usul mereka dan memikul satu sisi dan anaknya satu sisi yang lain. Baru beberapa langkah mereka berlalu, rupanya ada beberapa orang di belakang mereka yang menertawakan pemandangan yang aneh tersebut, sehingga mereka berdua distop oleh polisi dan digiring ke rumah sakit jiwa.

Cerita ini sebuah gambaran, bahwa bagaimanapun sikap kita akan dikomentari oleh orang lain, adakalanya komentar itu baik adakalanya tidak baik. 인생은 페이스북 같은 것 ( inseungeun peisbuk kateun geot )” hidup ini seperti facebook “ , ada sikap ada komentar, ada yang mendukung ada yang melemahkan, maka adakalanya kita mengikutinya dan adakalanya kita tidak mengikutinya.

Cerita ini juga sebagai renungan di hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Meneladani sikap beliau dalam menunaikan risalah  juga tidak lepas dari cela dan hinaan, namun tidak ada keraguan dalam menjalaninya. semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang teguh  dan tak luntur karena cela dan hinaan ( لا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ )  Aminn..


Imigran

Berbahagilah..
Karena Tuhan telah menjadikanmu seorang imigran
Karenanya adalah sebuah sayap
yang engkau bisa terbang melampaui lautan ketidaktahuan
Berbesar hatilah..
Karena Tuhan telah mentaqdirkanmu menjadi seorang imigran
Sebuah jalan asa yang berat namun itulah jalan menuju ‘tuan’ ( suwon 2008 )

Rasa sedih dan pilu yang teramat, ketika saudara kita, ratusan orang yang disebut ‘ imigran gelap’ mengalami musibah, kapal yang mereka tumpangi  tenggelam. Berita ini tentu sebagian kecil dari banyaknya derita seorang migran, makhluk Tuhan yang ingin mengharap hidup yang layak. Seringkali dalam hidup ini bukanlah sebuah pilihan, namun hidup layak adalah sebuah tujuan.
Menjawab pertanyaan teman, apakah di Korea pernah mengalami diskrimanasi, sebagai buruh migran yang di negeriku sendiri di istilahkan dengan TKI, tentu diskrimanasi adalah hiasan dinding hidup saya. Diskrimanasi itu tidak harus jauh-jauh di Korea, di negeriku sendiri nuansa diskriminasi terhadap TKI itu sangat kental dalam kehidupan masyarakat kita.
Ada pertanyaan ” apakah orang Korea itu memang diskriminatif terhadap orang asia tenggara ? “

Ada cerita , Pada akhir tahun 2009 lalu, saya berjalan bersama dua orang teman saya, ketika di depan pintu Lotte world, seorang polisi Korea, menawari ” 사진 찍어드릴까요? ( sajin jjikeo deurilkayo ? ) ” apakah bisa saya bantu ambil photo ? ” . Wah.. tentu kami sangat senang, tanpa meminta, mereka menawari kami, tanpa menanyakan kami dari mana dan sebagainya. Namun setelah dari Lotte world, kami menuju ke pameran design di Jamsil. setelah selesai, seorang teman ingin melihat pertandingan baseball. Karena pertandingan sudah dimulai, kami berharap ada tiket murah, setelah menanyakan ke loket, ternyata semua habis, lalu ada calo yang menawari dengan harga lebih mahal. Kami menyetujuinya, namun tiba-tiba uang dikembalikan, lalu bilang ” 외국인 안돼 ( wegukin andwe ) ” orang asing tidak boleh ” . Yah.. aku bilang saja ” dasar mulut calo.. ” .
Dua peristiwa ini sebagai contoh, bahwa masyarakat itu sama saja, ada yang baik, ada yang jahat. di manapun itu berada. Calo yang bilang ” orang asing tidak boleh” itu tentu rasial, diskriminasi, namun sebenarnya hanya sebuah alasan untuk menjual tiket itu lebih tinggi. Hal- hal semacam itu tidak boleh dijadikan acuan umum.
Ada yang melihat dari sebuah video tentang  sikap orang korea yang ‘cuek ‘  dengan  seorang dari asia tenggara, sedangkan ketika ada seorang bule, rata-rata mereka tanggap bahkan terkesan berlebihan.
Pertama, video itu sebenarnya ‘ konsumsi’ untuk orang Korea sendiri, sebagai ujian apakah pernyataan mereka yang mengatakan bahwa ” tidak bersikap rasis terhadap siapapun “itu benar atau tidak.
Kedua, pada dasarnya memang orang Korea itu cuek, tidak suka mencampuri urusan orang yang belum dikenal, namun tentu tidak dengan orang yang sudah dikenal.
Ketiga, adanya anggapan /image bahwa orang asia tenggara itu bagi orang asia timur, khususnya China, Korea, Jepang memang masih di bawah mereka, namun orang- orang bule, Amerika, eropa itu di atas mereka. Hal ini bisa dibuktikan, bahwa gengsi akan naik bila berkunjung ke rumah makan eropa atau barat, namun tidak begitu dengan makan dari asia tenggara.
Keempat, diskriminasi itu selalu berawal dari image, dari anggapan bahwa masih ada klasifikasi, stratifikasi sosial dalam kehidupan ini. Diskriminasi tidak harus jauh-jauh ke asia timur, ke jazirah arab, atau ke benua amerika, di lingkungan kita yang terdekat ini, seringkali kita bersikap diskriminasi.
Maka selayaknya bertanya pada diri sendiri ” 당신도 인종차별 주의자? ( dangsindo injongcabyeol jueija ) ” apakah anda juga seorang yang diskrimatif rasial ? “, semoga tidak. Amin