Jathilwati

u19662871-copy

Kakinya terus melangkah, sebentar berhenti, maju, mundur, kiri, kanan dan terus menari. Tangan lembutnya terus bergerak, sesekali melempar selendang dan kepalanya yang menampilkan wajah ayu itu terus menyelaraskan iringan gong, gendang dan terompet. Siang itu penari Jathil itu bersemangat sekali menunjukan kemahiran menarinya. Tapi malamnya ia menemui laki-laki itu, untuk belajar mengaji.  Gadis mungil itu terlihat serius sekali. Baginya kehidupan ini terasa ringan dan tanpa beban. Ia memang merupakan gadis yang rajin dan periang. Nilainya juga selalu yang tertinggi di sekolahnya. Tapi gadis itu baru kelas sembilan. Walaupun demikian ia terlihat tidak senang kalau dibilang ‘baru’ kelas sembilan dan lebih senang dibilang ‘telah’ kelas sembilan. Bagi gadis itu kelas tiga SMP sudah merasa ‘sangat dewasa’. Bahkan dulu, ketika awal bertemu dia memanggilku dengan panggilan “mas”, tetapi sekarang berganti “pak”.

Pagi itu adalah hari dimana sekolahnya libur, ia menungguku selesai mandi di sebuah sumber mata air, yang mereka sebut ” sendang”. Dan ia terlihat senang berjalan bersamaku.

” Pak, menurutmu jadi jathil itu baik nggak..?” tanyanya padaku. Aku hanya memandangnya dan sengaja tak menjawabnya.

” Habis.. teman-teman sekolahku memanggilku mendhut, pak. Roro mendhut maksudnya”. Jelasnya. Saya malah semakin tersenyum mendengar ceritanya.

” Roro mendhut itu terkenal kecantikannya dan kesetiaan cintanya, kan baik, terus kamu bagaimana? Marah atau senang ? Jawabku menanggapi ceritanya. Ia kelihatan tersanjung sekali karena merasa kusebut cantik. Dia manja sekali di hadapanku.

Tapi keceriaan itu tidak berlangsung lama. Aku harus meninggalkannya, meneruskan tugas-tugas akhir belajarku. Sementara ia juga harus menyelesaikan sekolahnya yang tinggal beberapa bulan lagi. Aku membiarkan gadis periang itu tumbuh sendiri, di kampung yang sunyi , di dataran yang tinggi itu.

Lebih setengah tahun aku sengaja tak menemui dan memberi kabar padanya, namun tiba-tiba seorang teman memberiku sebuah amplop warna hijau untukku. Hanya sebuah photo, tanpa surat di dalamnya. Seorang gadis berjilbab nampak dalam photo itu. Dan ia menuliskan kata -kata dibaliknya :

bila yang tertulis untukku
adalah
yang terbaik untukmu
kan
kujadikan kau kenangan
yang
terindah dalam hidupku
Aku tahu syair lagu itu telah menginspirasinya. Ia yang masih terbalut dengan  perasaanya. Tapi aku merasa dia yang baru beranjak ke jenjang sekolah yang lebih tinggi itu masih  harus belajar banyak tentang kehidupan ini. Saatnya nanti ia  harus bisa memangku dunia dan tidak hanya berpangku pada dunia. Aku tidak boleh menjadikannya lemah, karena nanti kehidupan akan keras padanya. Aku harus membiarkan dia memacu kudanya, membiarkannya melampaui kesulitan-kesulitan hidupnya, karenanya ia akan segera menemukan kemudahan- kemudahan hidupnya kelak.

Selanjutnya, Aku hanya  mengubur photo itu bersama kerinduan . Cerita  kami berakhir dan aku tahu aku akan berduka selamanya. Meskipun aku pun menyadari tidak pernah ada yang sia-sia. Saat akan meninggalkan tempat itu, aku katakan ” mendhut… mendhut.  saatnya nanti kamu tahu bahwa kasih sayang ini lebih berarti untukmu daripada hanya sebuah cinta, adikku..” kemudian  aku terus berjalan dan menjauh. Dan jathil itu bernama Wati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s