BAHASA ADALAH JIWA BANGSA

Pepatah di atas ada juga dalam bahasa Korea yaitu 언어는 그 민죽의 혼이다 ( eoneo neun  geu minjukei honida ) . Namun sulit sekali bagi saya untuk membuat tafsiran atas peribahasa di atas.

090806_d01_s

Saya merasa terperanjat, ketika membaca berita dari  KBS world dengan judul berita “ Sebuah suku minoritas di Indonesia memilih Hangeul sebagai sistem huruf resmi “. Sebuah suku di kota Bau-bau di pulau Buton Propinsi Sulawesi selatan telah menerapkan huruf bahasa Korea ( hangeul ) untuk menuliskan bahasa asli mereka yang disebut dengan ” bahasa cia-cia “. Ini juga merupakan hal yang pertama kali di mana abjad Korea digunakan oleh masyarakat di Luar negeri. Dalam berita tersebut di katakan bahwa di kota tersebut telah di adakan pelajaran sistem tulisan bahasa korea untuk murid Sekolah Dasar dengan waktu 4 jam per minggunya. Untuk program tersebut Profesor Universitas Nasional Seoul Lee Ho young, membantu untuk menciptakan buku pelajaran untuk suku minoritas di propinsi tersebut.

Sebagai penutur bahasa daerah juga, saya merasa sangat bersalah, di mana satu sisi harus bisa melestarikannya, namun di sisi lain mempelajarinya seakan tidak update atas tuntutan zaman. Saya senang dengan bahasa daerah, bukan berarti primordialis, namun karena saya merasa ada “unggah- ungguh” nya dalam bahasa tersebut. Saya cinta bahasa Indonesia, bukan berarti tidak “go international ” dan senang mempelajari bahasa asing bukan berarti  tidak senang akan budaya bangsa sendiri.
Saya tidak ingin berpendapat, namun terus berfikir dan semoga bisa berbuat.

10 thoughts on “BAHASA ADALAH JIWA BANGSA

  1. Ko’ bs gitu ya? Gimana awal mulanya sih sampai hal itu terjadi…. Apakah orang Korea jalan2 kesana trus nawar2in hangul??
    Biasanya tiap daerah di Indonesia memiliki bahasa dan huruf sendiri, atau klo ga punya huruf, hanya menggunakan huruf a-z tuk penulisan bahasanya. Ko’ gurunya rela2 aja ya? hwaaa…. T_T
    Orang Korea mah bangga banget krn hrfny dipake org lain…
    *sedih*

  2. lho…mas kakaakin ko malah sedih…??
    menurutku itu sebuah kemajuan dan banyak nilai plusnya kan
    walaupun ada nilai minusnya(seolah kehilangan identitas kebangsaan gt)..tp hal2 seperti itu seperti kebangsaan,nasionalisme dll…in reality kecil efeknya(menurutku loh..he..he..)

  3. woaaaaaa….tidaaaaaaaaak(^__^)..
    aku salah ya..?? maaf…미안해…afwan…
    jd ini jeng ya?….maaf jeng….hasyim ga tau…
    dikira kita dari species yang sama(^__^)….

  4. sama Akin Ssi, saya jg sedih dengernya, bukan krn AkinSsi dipanggil mas, tp masalah bhs ini loh, segitu byk bhs daerah di Indonesia knp hrs bhs negara lain…apa kepala sukunya suka ntn drama korea ya kyk kita2…

  5. Ya… seperti yang saya tulis, saya tidak ingin berpendapat… namun pada dasarnya apa yang anda semua rasakan seperti juga yang saya pikirkan . Untuk Akin ssi…. sekali2 salah sebut sih nggak apa2 kan… toh Dian ssi juga nggak sedih karena itu… Kamsahamnida…

  6. kalo boleh menambahkan, bahasa mereka itu tetap bahasa suku cia2, cuma dikarenakan mereka belum mempjunyai sistem penulisan, maka suku cia2 memilih menggunakan alfabet hangul untuk sistem penulisan mereka..jadi semua kata bahasa indonesia juga ditulis dengan hangul. kalo menurut aq sih biasa aja, toh, di jawa juga ada sistem penulisan hanacaraka,,jadi intinya, kalo mau belajar hangul, mending qita ke pulau buton itu aja..hehe..:D

    • Wah … benar sekali Zee ssi…
      Apa nanti saya juga bisa jadi guru hangeul gitu ya… tapi sayang bahasa daerahnya kan nggak bisa.
      Kalau yang gambar di atas itu bunyikan kan ” Bahasa Chia-chia “, itu buku pelajarannya tersebut. Kamsahamnida..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s