Kemaruk

Satu hal yang menarik untuk saya lakukan akhir-akhir ini adalah mendatangi toko buku loak ( bekas ). Melihat dan mencari bebarapa buku yang menarik untuk dibaca. Sadar akan kemampuan saya untuk memahaminya hanya sekian kecil persen, maka rasanya sayang banget bila harus membeli buku yang harganya utuh  100 % ( seratus persen ). Minggu ini sebuah buku yang saya ambil judulnya 그무엇도 내 성공을 막을수 없다 ( geumueotdo nae seonggongeul mageulsu eopda ) ” Apapun tidak ada yang bisa menghalangi kesuksesanku “. Mungkin seperti judul di atas,  bahwa saat ini saya  lagi ‘kemaruk’., artinya sok merasa bisa, merasa mampu, namun dalam dunia pengetahuan  ‘kemaruk ‘ itu perlu. Satu hal yang ingin saya sampaikan dari buku itu adalah  sebuah kata ” 성공은 먼 곳에 있지 않다, 생각 보다 가까운 곳에서 당신을 기다리고 있다 ( seonggongeun meon gose itji anta, saenggak boda gakkaun goseseo dangsineul gidarigo itda ) Kesuksesan itu bukanlah di tempat nan jauh di sana , namun ia sedang menunggu anda di tempat yang lebih dekat dari yang anda pikir ” .
Kita kadang berfikir bahwa kesuksesan itu adalah kecukupan materi, kemapanan jabatan dan terpenuhinya segala keinginan, sehingga jika kita belum mencapai itu, merasa bahwa kesuksesan itu masih jauh. Padahal ” failure is never ending and success is never final “, kegagalan itu tidak pernah berakhir dan kesuksesan itu tidak yang terakhir .
Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Budaya gemar membaca dan menulis harus terus ditanam, dipupuk dan dirawat dalam setiap kehidupan. Mungkin kita sadari bahwa dibanding negara-neara yang lebih maju, bangsa kita budaya membacanya masih ketinggalan. Namun ke depan, kita mempunyai tanggung jawab dan selalu berharap bahwa budaya membaca bangsa Indonesia akan terus meningkat. Dimulai dari diri kita, keluarga kita, anak-anak kita, adik kita, dan semuanya kita dekatkan dengan bacaan, agar selalu bisa membaca dan belajar.
Beberapa bulan yang telah lalu, seorang teman muda, bahkan saya katakan amat belia, yang mengeluh pada saya bahwa ia telah menghabiskan waktunya untuk  menulis , meng-update blog, namun pengunjung bloknya masih sedikit dan ini membikinya serasa stress. Saya katakan padanya bahwa harus bersabar, karena kita tidak bisa memaksa orang harus membaca tulisan kita, biarkan alami, setelah menulis dan mempublikasikan, biarlah mesin pencari yang bekerja, yang  men-  ‘ dagang ‘kan tulisan kita.
Suatu kesempatan,  saya membaca tulisan di sebuah dinding Facebook dari seorang teman, yang ditulis oleh temanya. Tulisan itu hingga sekarang tidak ada komentar, bahkan oleh yang punya ‘rumah’ sekalipun. Namun tulisan yang ditulis dalam bahasa Arab tersebut masih aku ingat dan aku tulis ini : ‫عدو عاقل أفضل من صديق جاهل، وذلك أن العود العاقل لن يضرك، بينما الصديق الجاهل
يضرك وهو يريد أن ينفعك دون ان يدري  ( ‘aduwun ‘aaqilun afdlalu  min shadiqin jahilin, wa dzalika annal ‘aduwal ‘aaqil laa yadzuruka, bainama ashadiiqi aljaahil yadzuruka wahuwa yuridu an yanfa’uka duna an yadry ) ” Musuh yang berakal  (pandai ) itu lebih baik dari teman yang bodoh , karena sesungguhnya musuh yang berakal tidak membahayakan  namun teman yang bodoh akan membahayakan karena  ia tanpa di sadarinya akan memanfaatkanmu”. Tulisan ini memberikan gambaran bahwa betapun ilmu itu sangat penting, belajar itu adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan, sampai-sampai gambaranya seperti itu pentingnya.
Seperti ini harus disadari, bahwa betapapun hal yang yang kita rasa  sudah tidak berarti lagi, namun bagi orang lain ternyata hal tersebut bisa bermanfaat. Mungkin saat kita menulis ini, tak seorangpun orang lain membaca, komentar, namun setidaknya kita sendiri telah membaca. Untuk teman-teman yang sedang mulai menulis, membuat blog, sampaikan ide- ide kita, tuangkan, apapun kata orang lain, “seuseuro reul mideora ” percaya diri sendiri. Pujian dan cacian adalah dua sisi mata uang yang harus kita hadapi. Its now or never, sekarang atau tidak pernah sama sekali, kesempatan yang terlewati tidak akan terulang untuk yang kedua kalinya.
당신이 지닌 재능을 가지고 오랜 시간 열심히 노력 하면 세상에 이루지 못 할일이 없다  ( dangsini jinin jaeneungeul gajigo oraen sigan yeolsimhi noryeok hamyeon sesange iruji mot hariri eopda ). Bila engkau mengembangkan bakat dan terus bersungguh-sungguh  berusaha dalam waktu yang lama, maka tidak ada sesuatu yang tidak bisa anda miliki di dunia ini “.  betulkah bukan..? biarkan orang bilang ” kemaruk “, dan kita terus berjalan.

14 thoughts on “Kemaruk

  1. Jika dunia belum melirik dan mengakui… setidaknya kita melakukan untuk diri sendiri dan orang2 terdekat… selalu berusaha..

    Tazkiana :
    BEtul sekali mas… Makasih banget telah mampir di sini ya…

  2. anjing menggonggong khafiLah berLaLu~

    [Musuh yang berakal (pandai ) itu lebih baik dari teman yang bodoh , karena sesungguhnya musuh yang berakal tidak membahayakan namun teman yang bodoh akan membahayakan karena ia tanpa di sadarinya akan memanfaatkanmu.]
    kea mishiL yang justru jadi pemotivasi deokman~
    [kata ajussi : deokman muLu~]

    hehee~ ^^v

    hmmf~
    seenggaknya berarti kita harus ubah cara pandang kita.bahwa mereka yang ‘musuh’ pun sebenerx juga bnyak kebaikan.
    [ngomong apa si ??]

  3. kalau boleh ikut ngomeng, jadi yang saya pahami, musuh yang pinter, akan mengajak kita berkompetisi dengan sangat keras, dan dia akan memperlihatkan kekurangan kekurangan kita dengan tepat, karena dia orang pinter, dan tetep aja berbahaya, karena dia adalah musuh tapi untuk teman yang bodoh membantunyapun pasti salah. karena dia tidak tahu bagaimana cara membantu kan orang bodoh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s